bismillahirrohmanirrohim..
kali ini saya mau mereview sebuah buku, judulnya
‘15 Kesalahan Mendidik Anak dan Cara Islam Memperbaikinya’ karangan Dr.
Muhammad bin Abdullah as Sahim yang diterbitkan oleh Media Hidayah.
Kenapa saya tertarik membaca buku ini? memang
akhir-akhir ini saya senang membaca buku mengenai pendidikan anak, untuk
persiapan nantinya jika Alloh berkenan memberi kami seorang anak.
bukankah ketika akan menikah kita juga belajar seluk beluk mengenai
pernikahan? lalu mengapa ketika kita ingin mempunyai anak kita tidak
belajar mengenai itu..
Sedemikian kompleks mendidik anak, sebanding itu
pula Alloh subhana wa ta'ala memberi pahala kepada orang tua yang mampu
mendidik anak sesuai aturan-Nya. Jadi jangan sampai kita melakukan
kesalahan-kesalahan yang disebutkan di buku ini ketika mendidik anak
kita nantinya.
Tujuan tertinggi seseorang dalam mendidik adalah
terealisasikannya pada diri anak didik: ibadah kepada Alloh, ikhlas
karena-Nya, dan terhindar dari segala kesyirikan.
Membaca buku ini saya merasa 'makjleb’, beberapa
kesalahan yang ditulis di sini banyak saya jumpai di sekitar lingkungan
saya tinggal. Misal ketika anak mogok sekolah, orang tua menakutinya
dengan ucapan 'nanti ditangkap pak polisi kalau nggak mau sekolah’
bahkan yang ekstrim ada orang tua yang mengatakan 'nanti kamu
dikhitankan lho kalau nggak mau sekolah’. Walah walah, masa menakuti
anak pakai khitan, padahal kan khitan wajib untuk anak laki-laki, nanti
kalau anak sudah baligh tapi nggak mau khitan gara-gara sejak kecil
ditakut-takuti seperti itu, gimana?
Sebagai orang tua, atau calon orang tua, memang
sebaiknya kita mempersiapkan diri jauh-jauh hari sebelum kelahiran anak
kita, jadi ketika anak kita lahir, kita sudah mempunyai bekal yang cukup
untuk mendidiknya.
Kalau sudah terlanjur punya anak dan menerapkan
pendidikan yang 'salah’ ada baiknya kita ubah dari sekarang. Karena
mendidik anak tak semata hanya mengajari anak saja, tapi kita sebagai
orang tua pun dituntut untuk selalu belajar.
Berpegang teguh dengan syariat Alloh, mengikuti
sunnah Rasul dan berdoa kepada Alloh merupakan hal yang sangat penting
dalam keberhasilan mendidik anak.
Buku ini membahas beberapa kesalahan dalam mendidik anak di antaranya:
1. takut kepada manusia
tanpa sadar kadang kala orang tua
membelokkan anak didik dari perasaan takut diawasi oleh Alloh, kepada
ketakutan dan rasa diawasi oleh manusia.
Contoh, perkataan orang tua:
- Nak tinggalkan perbuatan ini supaya kau tidak ditertawakan orang!
- Nak, lakukan ini supaya orang suka kepadamu!
- Nak, apa yang akan dikatakan orang kalau kau melakukan perbuatan ini…
Dampak jelek:
- Anak terbiasa menengok bagaimana respon manusia ketika hendak beribadah atau bermuamalah.
- Anak akan
tekun beribadah hanya tatkala masyarakat melakukan amalan itu, tapi bila
dia kembali ke lingkungannya (yang durhaka) dia pun akan kembali kepada
kesesatan.
- Anak akan meninggalkan ibadah karena jauh dari control masyarakat dan hilangnya perasaan diawasi oleh Alloh.
- Anak akan sangat mudah melakukan pelanggaran syariat di saat tidak diawasi orang
Solusi:
- Para pendidik
menanamkan pada hati anak-anak kalian rasa diawasi oleh Alloh dalam
keadaan sembunyi maupun terang-terangan, beramal ibadah karena Alloh
semata dalam keadaan sedih maupun senang.
“Barangsiapa mengharapkan ridha Alloh dengan rela
mendapatkan murka manusia, maka Alloh akan mencukupkan dia dari
tanggungan manusia; dan barangsiapa mengharapkan ridha manusia dan rela
mendapat murka Alloh, maka Alloh akan jadikan dia tergantung kepada
manusia.”
2. mendidik anak dengan motivasi duniawi
banyak kita dapati orang yang menghabiskan waktunya tanpa mengetahui hakikat tujuan hidupnya, mereka lalai akan tujuan hidupnya.
Contoh, perkataan orang tua:
- “Berupayalah
kamu untuk membangun masa depanmu" sehingga mencari sarana hidup pun
menjadi tujuan utama. kita tidak mengatakan “kerjakanlah ini dan itu
karena umurmu semakin bertambah.” karena kita tahu bahwa umur manusia
terbatas. mengapa kita tidak memberinya keyakinan bahwa rizki untuk
hidup di dunia ini sudah dijamin oleh Alloh sebagaimana kita memberinya
keyakinan bahwa ajal itu tidak bisa dikurangi.
Dampak jelek:
- Kesukaan
anak yang berlebihan pada liburan dan ijazah, serta berbuat curang dalam
ujian (bila mendapat kesempatan) karena anak didik tidak konsentrasi
untuk meraih ilmu dari belajarnya, tapi hanya memandang sekolah sebagai
formalitas untuk mewujudkan impian dan cita-citanya.
- Anak lebih
suka memperturutkan hawa nafsu, sibuk dalam urusan dunia, lalai akan
tujuan hidup yang sebenarnya, merasa tentram dengan urusan dunia namun
lalau dengan akhirat, serta hilangnya kemampuan yang telah Alloh
amanahkan kepadanya.
- Akan membelokkan anak dari tujuan hidup yang mulia, sehingga terbukalah peluang bagi musuh Islam untuk menguasai mereka
Solusi:
- Seorang
pendidik perlu menjauhkan anak didiknya dari hal-hal yang membawa kepada
kebinasaan dan ketergelinciran, mengangkat derajad mereka dari derajad
binatang menjadi derajad manusia yang mempunyai semangat untuk mengemban
amanat.
- Seorang
pendidik perlu membuat anak didik mulia dengan memberinya risalah ilahi
dan memberinya amanat kepemimpinan, sehingga tinggi semangat dan terarah
hidupnya.
- Menanamkan
pada diri anak perasaan sebagai seorang Islam yang wajib berbeda dari
orang kafir dalam segala hal, penampilan, gaya bicara, maupun tujuan dan
angan-angannya.
- Menanamkan perlunya bergaul dengan orang-orang yang dekat kepada Alloh.
- Memberikan pengarahan kepada anak dan mendorongnya untuk berperan serta mewujudkan cita-cita dan impian kaum muslimin.
- Memotivasinya
agar menegakkan syariat secara individu di rumahnya, serta memanfaatkan
waktu senggangnya untuk kegiatan yang bermanfaat bagi kaum muslimin.
3. mendidik anak suka mengejek
Disebabkan berbagai macam nikmat
pada diri seseorang, dan akibat didikan yang salah, maka muncullah anak
sebagai seorang yang suka mengejek dan mencela.
Sebab:
- Banyaknya
kenikmatan dan karunia yang dia miliki serta banyaknya orang fakir yang
dating untuk menjadi pekerjanya, hal ini mendorong orang yang mempunya
potensi takabur untuk berlaku takabur, sombong, dan meremehkan orang
lain
- Lalai terhadap ukuran Alloh yang telah ditetapkan sebagai pedoman dalam menghormati dan memuliakan seseorang (taqwa).
- Lalai adanya adzab Alloh.
- Ketidaktahuan
akan peringatan dan larangan Alloh dan RasulNya tentang mengejek dan
menghina kaum muslimin (karena boleh jadi mereka yang diejek lebih baik
daripada mereka yang mengejek).
- Mengganti
ukuran Ilahi yang telah Dia tetapkan untuk mengukur derajat dan
kemuliaan hambaNya dengan timbangan keduniaan jahiliyah seperti warna
kulit, bangsa, tanah kelahiran, suku, dll
Dampak jelek:
- Bila disebut-sebut orang yang terkemuka, dia sangat bersemangat karena dirinya merasa sepadan dengan mereka.
- Bila
disebut-sebut orang yang kaya dihadapannya, dia akan bertanya panjang
lebar bagaimana cara mencari kekayaan tersebut. Bila yang disebut orang
miskin, maka dia acuh tak acuh.
- Anak merasa bangga ketika memakai mobil bagus, berpakaian trendy, dan kepada orang yang bermobil usang dia akan sombong.
Solusi:
- Perlu
diketahui sungguh-sungguh bahwa mengejek bisa mengeluarkan diri dari
Islam, seperti; mengolok-olok Alloh, malaikat, para nabi, para rasul
serta orang shaleh.
- Perlu diketahui bahwa konsekuensi mengejek adalah adzab yang pedih.
- Perlu disadari bahwa semua kenikmatan datangnya dri Alloh, maka selayaknya pujilah Alloh dan bersyukur kepadanya.
- Ketika setan
menghiasi diri kita untuk berbuat congkak, sadarlah bahwa semua nikmat
itu adalah dari Alloh dan Alloh maha kuasa untuk mencabutnya juga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar